Do’s and Don’ts a La Ami (part 1)

Tulisan ini cuma ami buat untuk merestruturisasi otak dan memahami sebenarnya apa sih yang diinginkan dari hidup dan diri sendiri.. tidak bermaksud menjelek2an suatu pihak pun, tp cuma menilai dan belajar apakah sesuatu itu dapat dibenarkan untuk dilakukan..

I’m turning to be more and more like a person who really I don’t want to be..😦

Pertama-tama dimulai dari mendaftar Dont’s a la Ami.. entah sesuai ato nda disebut don’ts,, yah tapi esensinya dapat lah.. hehehe.. yang penting tidak boleh dilakukan aja.. ntah itu sikap, ntah itu karakter, ntah itu perbuatan..

  • Kurang bersyukur
    Apapun itu bentuknya.. ntah kurang sering menyatakan “Makasih ya Allah buat semuanya” atau lebih simpel lagi “alhamdulillah” atau sering mengatakan “Uuuh.. kok gini..”..  ataupun ketika dituangkan dalam bentuk ibadah.. ya misalnya masih aja deadliner kalo shalat.. ataupun masih suka iri liat orang laen, walaupun cuma sepersekian detik dan kemudian mengatakan ke diri sendiri bahwa “semua butuh proses,, dan dunia itu berputar,, siapa yang di atas selalu berganti..” atau “ya ampun, baru segini doang, yang laen lebih parah masalahnya,, malu klo ngeluh”
  • Butuh pengakuan
    Bentuk gampang dimengertinya ya narsis itu😀 kadang-kadang emang lucu, apalagi kalau berada di lingkungan yang sangat terbiasa narsis.. walaupun sebenarnya memang iya jago-jago, tapi kok ya kalau dipikir-pikir gimana kalau orang lain yang mendengarkan, apa menganggap lucu juga, atau sombong, atau lebih parah – menyebalkan >.<.. Sebenernya menurut aku pribadi, nda pa pa sih, cm klo terus2an berusaha memperlihatkan sisi bagusnya diri sendiri (baca: pamer) kayaknya agak gimana gitu.. Sebenarnya hati bisa membedakan kan ya yang mana yang main-main yang mana yang beneran.. pasti nda enak aja hatinya kalau habis pamer/narsis versi beneran, bukan lucu2an atau maen2.. nah itu berarti bentuk narsis yang salah..
    Nah setelah berpikir-pikir, akhirnya mencoba mengambil hipotesis sifat yang satu ini terbentuk.. aku ambil contoh diri sendiri dulu aja.. aku punya kebiasaan segalanya perlu deadline, penilaian, raport, poin, ato apapun itu yang bisa diukur nilai keberhasilannya dalam suatu periode tertentu.. nah, yang menjadi masalah,, setelah lulus kuliah, justru lebih banyak hal2 yang nggak bisa dinilai pake angka untuk mengukur berhasil ato tidaknya.. ambil contoh, peningkatan skill baik di bidang teknis maupun non-teknis, pengetahuan umum, pengetahuan akan agama dan ibadah, perbaikan sifat dan sikap, dan lainnya.. maka dari itu, akhirnya sikap narsis n pamer itu muncul seiring kebutuhan akan penilaian terhadap diri sendiri tentang apa yang sudah dilakukan.. dengan tujuan akhir tahu bahwa yang dilakukan tidak sia-sia dan menjadi semangat untuk lebih maju lagi, belajar lagi, dan lebih baik lagi..
    Aku pribadi, mungkin bisa mengurangi sifat ini pelan-pelan, tapi ntah knapa aku nggak yakin bisa mengubah pola pikir yang butuh segala bentuk milestone hidup dan penilaian atas capaian non-teknis dalam hidup.. pembelaan dirinya sih seperti ini: bagaimana aku bisa menilai dan menjadi lebih baik lagi kalau state terakhir diri aku aja tidak bisa dinilai.. Sehingga akhirnya aku memilih cara termudah untuk tau ‘capaianku’ dengan bercerita (baca: pamer) ke orang lain dan mendengarkan tanggapan ataupun penilaian orang lain tersebut.. niat dasarnya sih bagus ya, implementasinya aja masih ‘agak’ salah caranya :p
  • Takut konflik
    Ini satu hal yang makin lama makin mengikis integritas di dalam diri.. kadang2 bilang ke diri sendiri “mi, please stop saying it’s okay when it’s really not.”.. aku mau semuanya aman terkendali, enak di hati dan nggak ada sakit hati.. yang pada akhirnya justru membuat diri sendiri yang sakit,, jadi di belakang layar ngedumel2 ato nangis2 sendiri.. kesel ke orang iya.. kesel ke diri sendiri iya.. disini aku sadar harus banyak belajar lagi soal menyatakan isi hati dan mempertahankannya.. karena sebenarnya kita pasti sadar kok apa yang benar-benar salah tapi nggak berdaya melawannya.. ntah karena takut konflik itu sendiri yang menjadi alasannya, takut suasana jadi tidak enak, atau bahkan takut kehilangan sesuatu.. ada momen sepersekian detik dimana waktu berhenti sejenak ketika dihadapkan pada suatu kondisi yang berlawanan dengan isi hati kita.. pada saat itulah kita dikasih kesempatan buat berpikir, tindakan dan sikap apa yang harus diambil buat menghadapinya..
    “bilang aja apa ya”.. “ah jangan, ntah bermasalah lagi”.. “tapi itu salah”.. “ah nanti orangnya juga sadar sendiri”.. “tapi gemes klo nda diomongin, kasian juga ntarnya dianya”.. “tapi jahat n terkesan menggurui klo diomongin”.. “inget masa depan aja deh, efeknya di masa depan,, buat kebaikan dia juga..”.. “tapi tapi tapi, nda pa pa kali ya sebenere.. masih wajar kok”..
    Nah pergolakan batin di atas bisa berakhir dengan kemenangan kalau akhirnya kita memilih untuk mengatakannya.. di sisi lain hal itu akan menjadi kekalahan kalau memilih diam.. Dari kutipan di atas bisa dilihat, berakhir dengan diam bisa dikarenakan dalam pikiran juga sudah bergeser pola pikir yg tadinya sudah benar tapi justru memilih menerima dan menganggapnya sebagai sebuah kewajaran.. dan akhirnya teruslah pola pikir itu berubah perlahan jadi suatu yang salah.. Inilah yang makin lama makin mengikis integritas di diri sendiri, aku.. mungkin juga kalian..
    Jadi kita sebagai manusia seharusnya bersyukur ketika hati nurani masih bisa meneriakkan apa yang benar.. and just keep this voice of heart sharp..😉 karena jika itu aja sudah mulai hilang di masa muda, mau jadi apa nanti..

Oke segitu dulu, dilanjutkan di part 2 saja.. bismillah, mudah2an setelah bisa menuliskannya, selanjutnya bisa memperbaikinya.. amiin,,

Setelah mendaftar nggak mau jadi apa, sekarang mau jadi apa.. konsepnya tau, dituliskan lg supaya lebih memahami.. so, these are the Do’s a la Ami:

  • Pintar
    Niatnya diluruskan untuk satu hal.. untuk jadi pintar, lebih pintar, lebih, dan lebih seiring waktu.. dan pada akhirnya dengan kemampuan yg dimiliki bisa menuangkan semuanya untuk pekerjaan, pembelajaran agama dan hidup, serta memahami dan peduli pada orang lain..
  • Fearless
    Ayo.. Takut itu harus satu.. sama yang di Atas.. segala bentuk ketakutan seperti takut akan kegagalan, kehilangan, malu harus pelan-pelan dihilangkan.. ini bisa jadi salah satu penghambat buat maju.. nggak boleh takut mencoba hal baru.. nggak boleh takut belajar.. nggak boleh takut berbuat baek.. kayak kutipan di suatu buku “mo nyopet aja mesti nekat, knapa berbuat benar nggak berani nekat”.. dan satu hal lagi, harus belajar nggak takut sama yang namanya ambil sikap terhadap sesuatu yg nggak disukai dan memang jelas2 salah..

Pencarian apa yang benar apa yang salah dan tujuan hidup ini mungkin tidak akan pernah berujung sampai menemukan Tuhan..

Ya sekian dulu tulisannya, nanti disambung lagi.. buat pembelajaran ke diri sendiri.. kalaupun nanti juga berguna buat yang lain, baguslah😀..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s